Checklist Kepatuhan SIMRS terhadap Standar-standar Internasional

0 Komentar

Selama beberapa dekade terakhir, perkembangan teknologi telah berdampak pada berbagai industri, termasuk layanan kesehatan. Sistem Informasi Manajemen Rumah Sakit (SIMRS) telah banyak diterapkan di berbagai rumah sakit dan klinik.

Terdapat berbagai alasan rumah sakit-rumah sakit mulai menerapkan SIMRS, misalnya meningkatnya akurasi dan validitas data. Efisiensi layanan pun lebih baik dengan berkurangnya penggunaan kertas dan alur distribusi data dengan waktu nyata (real-time). Kesalahan medis akibat miskomunikasi maupun tulisan tangan yang tidak jelas bisa ditanggulangi, sehingga kualitas perawatan pasien pun meningkat. Selain itu, data rekam medis elektronik akan tersusun secara komprehensif dan mudah diakses oleh dokter maupun tenaga kesehatan lainnya. Hal ini akan sangat membantu dalam memberikan perawatan, menentukan diagnosis, maupun mengambil keputusan medis.

Dengan meluasnya target pengguna SIMRS, vendor-vendor berlomba-lomba menawarkan produk untuk memenuhi kebutuhan pasar. Solusi yang ditawarkan pun berkisar dari proses-proses dasar saja (misalnya administratif), hingga yang lebih komprehensif, seperti yang mencakup rekam medis elektronik maupun proses keuangan.

Dengan banyaknya pilihan solusi yang tersedia, berbagai hal perlu dipertimbangkan oleh rumah sakit dalam menentukan produk yang ingin digunakan. Salah satunya adalah apakah SIMRS yang ditawarkan sudah memenuhi standar internasional, baik dalam proses operasional maupun basis data (database) yang digunakan. Berikut beberapa hal yang perlu dicermati:

1. ICD

Saat ini, pada proses penyediaan atau penjaminan layanan kesehatan, kode ICD 10 digunakan sebagai standar dalam menentukan kelompok terkait diagnosis (DRG/Diagnosis-Related Groups), yang akhirnya menentukan besaran jaminan yang dapat diklaim untuk perawatan pasien. Di Indonesia, DRGs diterapkan melalui INA CBGs (Indonesia Case-Based Groups), yang wajib digunakan pada seluruh rumah sakit yang bekerja sama untuk program Jamkesmas/BPJS. Diagnosis pada INA-CBGs kemudian diterjemahkan menjadi tarif paket yang meliputi seluruh komponen sumber daya yang digunakan dalam pelayanan, baik medis maupun non-medis. Karena itu, sangat penting untuk memastikan bahwa SIMRS yang digunakan sudah mendukung penentuan diagnosis berdasarkan kode ICD 10, juga tindakan berdasarkan ICD 9-CM. Basis data yang digunakan juga harus sesuai dengan peraturan yang berlaku, misalnya di Indonesia, kode ICD 10 dan ICD 9-CM yang digunakan adalah versi 2010.

2. SNOMED CT

Salah satu keuntungan penggunaan SIMRS adalah data rekam medis tersimpan secara elektronik, sehingga mudah dibagikan dengan penyedia layanan kesehatan lain demi kesinambungan layanan kesehatan. Bahkan di Singapura dan beberapa negara di jazirah Arab, penyedia layanan kesehatan mulai diwajibkan menggunakan rekam pasien yang standar dan tersentralisasi secara nasional.

Salah satu tantangan dalam berbagi informasi klinis adalah perbedaan SIMRS yang digunakan masing-masing rumah sakit, juga kosakata klinis yang sering dipakai. Kesalahan interpretasi dapat menyebabkan kesalahan dalam menentukan perawatan, yang pada akhirnya bisa berakibat fatal. Karena itu, penting untuk menggunakan terminologi standar yang sudah disepakati secara internasional, misalnya SNOMED CT (Systematized Nomenclature of Medicine Clinical Terms). SNOMED CT mencakup istilah-istilah klinis secara komprehensif, termasuk sinonim dan definisinya. Penerapan SNOMED dalam SIMRS akan meningkatkan kualitas alur komunikasi antar fasilitas kesehatan.

3. NANDA

Salah satu komponen dalam proses akreditasi, baik dengan standar nasional maupun internasional, adalah CPPT atau Catatan Perkembangan Pasien Terintegrasi. Dengan CPPT, petugas kesehatan dari berbagai profesi dapat mencatatkan pemeriksaan dan penanganan yang mereka lakukan, termasuk perawat.

Manajemen keperawatan di rumah sakit diawali dengan menentukan diagnosis keperawatan, yang akan menjadi dasar penentuan asuhan dan intervensi keperawatan yang sesuai. Pada akhirnya, diagnosis keperawatan akan berperan penting terhadap hasil perawatan pasien. Karena itu, rumah sakit perlu menerapkan daftar diagnosis keperawatan yang terstruktur dan standar, misalnya dengan NANDA. Jika diintegrasikan dengan SIMRS, NANDA akan membantu pengelolaan basis data keperawatan, juga memfasilitasi pengkajian dan asuhan keperawatan secara sistematis.

4. NIC – NOC

Setelah diagnosis keperawatan ditentukan dengan NANDA, tim perawat kemudian menentukan intervensi yang akan dilakukan juga target yang ingin dicapai. Metode yang lazim digunakan adalah NIC (Nursing Intervention Classification) dan NOC (Nursing Outcome Classification).

Dengan penerapan NANDA, NIC, dan NOC dalam SIMRS, proses asuhan keperawatan akan konsisten dan beban kerja perawat dapat diukur. Hal ini akan memberikan beberapa manfaat bagi rumah sakit:

  • Komunikasi antar perawat dengan istilah atau terminologi standar akan terfasilitasi, sehingga proses keperawatan akan konsisten dan berkesinambungan.
  • Proses yang terotomatisasi, di mana SIMRS dapat menentukan asuhan dan target intervensi keperawatan berdasarkan diagnosis. Perawat dapat menyesuaikan asuhan dengan kondisi pasien jika perlu.
  • Beban kerja perawat akan terukur, sehingga dapat membantu manajer keperawatan dalam menentukan kapasitas sumber daya yang diperlukan atau mengelola jadwal kerja.
  • Data keperawatan akan terkumpul secara elektronik, sehingga dapat dianalisis lebih lanjut oleh manajemen maupun administrator.
  • Hasil perawatan pasien dapat dikaji, sehingga dapat diketahui apakah asuhan keperawatan perlu ditinjau ulang dan disesuaikan dengan praktik berbasis bukti (evidence-based practice).
  • Proses legislasi dan penentuan kebijakan oleh Departemen Kesehatan terfasilitasi.
  • Proses edukasi mahasiswa keperawatan pada rumah sakit pendidikan akan terbantu.

5. HL7

Selain SIMRS, terdapat juga beberapa perangkat lunak yang dapat digunakan dalam membantu operasional rumah sakit, seperti LIS (Laboratory Information System), RIS (Radiology Information System), dll. Perangkat-perangkat lunak ini juga dapat disambungkan dengan SIMRS melalui interoperabilitas.

Salah satu standar yang banyak digunakan dalam proses pertukaran data antar aplikasi adalah HL7 atau Health Level 7. Informasi yang dapat dikirimkan antara lain rekam medis pasien, hasil pemeriksaan penunjang, tagihan, dsb. Dengan HL7, pertukaran informasi akan berlangsung dengan waktu nyata (real-time), tanpa hambatan, dan dengan biaya lebih rendah dibandingkan pengiriman dokumen dengan kertas atau file melalui email. Akurasi dan kualitas data yang ditransfer juga lebih baik. Proses interoperabilitas dengan HL7 pun sudah diatur oleh organisasi standar internasional seperti American National Standards Institute (ANSI).

6. DICOM

Selain HL7, standar pertukaran data lainnya adalah DICOM (Digital Imaging and Communication in Medicine), yang secara khusus digunakan untuk penyimpanan dan transfer gambar. DICOM dapat menjembatani mesin pengambil gambar, komputer, printer, scanner, maupun perangkat keras lainnya. DICOM tidak hanya dapat menangani pertukaran gambar di radiologi (X-Ray, CT-Scan, MRI, dll), namun juga di laboratorium patologi (foto jaringan, dll).

Dengan DICOM, dokter yang meminta pengerjaan order penunjang medis tidak perlu menunggu hingga foto atau cetakan hasil pemeriksaan diserahkan secara fisik. Gambar dengan format DICOM dirancang untuk menunjukkan detail lebih baik daripada gambar hasil pindaian/scanning, namun dengan ukuran file yang lebih kecil. Selain itu, dapat dipilih beberapa gambar yang relevan saja yang menggambarkan abnormalitas yang ditemukan. Proses ini akan sangat membantu kolaborasi multidisipliner untuk penanganan pasien yang holistik.

Berdiri sendiri, SIMRS sudah dapat memberikan berbagai manfaat untuk rumah sakit. Namun, potensi SIMRS akan makin bermanfaat jika dilengkapi dengan berbagai data maupun proses yang memenuhi standar internasional. Hal ini perlu dijadikan pertimbangan dalam memilih penyedia SIMRS yang akan diimplementasikan.

Manfaat yang dicapai akan makin optimal jika SIMRS dapat dihubungkan dengan perangkat lunak lain melalui HL7 dan DICOM. Karena itu, sangat penting untuk memilih vendor yang terbuka untuk bekerjasama dengan penyedia lain untuk proses interoperabilitas. Vendor juga harus dapat berkoordinasi dengan baik dan bersedia untuk berkomitmen memberikan layanan jangka panjang bagi RS.

Bagikan

Tinggalkan komentar



Dapatkan informasi terbaru kami ke email Anda

(Dikirim mingguan, hanya tersedia dalam bahasa Inggris)

dari Indonesia:

dari Australia:

dari Selandia Baru:

dari Singapura:

dari negara lainnya:

© Hak Cipta 1991 - 2020 Mitrais