Mitrais Medical
Newsletter


Edisi. 286/ 8 - 21 September 2019

Berlangganan

Headline

Mengapa Pengubahsuaian SIMRS Berpotensi Menimbulkan Masalah?


T: Kenapa semakin banyak rumah sakit beralih dari kertas ke Sistem Informasi Manajemen Rumah Sakit (SIMRS)?
J: Dokter dapat mengakses informasi medis secara cepat, akurat, efektif dan efisien. Hal ini tidak dapat dilakukan dengan dokumen kertas. Beberapa keuntungan lainnya seperti integrasi dengan sistem informasi lain, riwayat medis dan data pemeriksaan yang komprehensif, potensi kesalahan medis yang berkurang, dan meningkatnya komunikasi antara dokter dengan pasien. Dalam jangka panjang, SIMRS dapat meningkatkan kepuasan pasien akan layanan rumah sakit, meningkatkan kesehatan masyarakat, juga mengurangi biaya kesehatan per kapita.

T: Kenapa ada banyak penyedia SIMRS di pasaran?
J: Saat ini semakin banyak negara yang mendukung implementasi SIMRS, baik melalui regulasi pemerintah maupun dana stimulus, seperti Amerika Serikat, Inggris dan Denmark. Seiring meningkatnya permintaan pasar, semakin banyak perusahaan teknologi yang merambah ke industri rumah sakit.

T: Dapatkan rumah sakit menggunakan SIMRS yang sudah tersedia di pasaran, tanpa pengubahsuaian?
J: Produk yang ditawarkan penyedia SIMRS telah dirancang sesuai kebutuhan rumah sakit secara umum, dengan memerhatikan pengobatan berbasis bukti, tren di industri rumah sakit, aturan pemerintah, dan perubahan persyaratan sertifikasi. Oleh karena itu, produk-produk ini semestinya siap digunakan tanpa pengubahsuaian.

T: Tetapi kenapa beberapa rumah sakit masih meminta pengubahsuaian SIMRS?
J: Pada kasus tertentu, ada permintaan khusus yang tidak dapat dipenuhi oleh produk standar, contohnya akibat karakteristik, kepemilikan, maupun lokasi rumah sakit. Selain itu, beberapa rumah sakit ingin mempertahankan proses operasional yang mereka jalankan, dan bukan menyesuaikan dengan proses pada SIMRS yang telah dikembangkan berdasarkan praktek terbaik.

T: Apa yang harus dipertimbangkan rumah sakit sebelum mengubahsuaikan SIMRS?
J:

  • Biaya. Pengubahsuaian akan meningkatkan biaya implementasi, karena terdiri dari beberapa tahapan termasuk penyusunan kode, pengetesan, pelatihan ulang, dan implementasi tambahan. Rumah sakit perlu membandingkan manfaat pengubahsuaian dengan biaya yang dikeluarkan.
  • Proses Standar. Sebelum mengubahsuaikan SIMRS, rumah sakit sebaiknya meninjau prosedur yang mereka jalankan saat ini, apakah sudah sesuai praktik terbaik, standar kedokteran yang berbasis bukti, atau standar operasional yang dianjurkan oleh institusi akreditasi.
  • Pengetesan. SIMRS yang telah diubahsuaikan sebaiknya dites ulang untuk memastikan tidak ada kesalahan sistem. Idealnya, pengetesan menggunakan berbagai skenario untuk mengidentifikasi dan memperbaiki kerusakan sedini mungkin. Setelah pengetesan, pelatihan ulang untuk pengguna SIMRS diperlukan. Sudah pasti, diperlukan waktu tambahan dan usaha lebih sebelum SIMRS dapat digunakan.
  • Pembaharuan produk. Agar tetap sesuai dengan kemajuan teknologi terbaru, perubahan aturan pemerintah, dan standar sertifikasi, penyedia SIMRS merilis pembaharuan produk secara rutin. Dengan produk standar, pemasangan pembaharuan akan cukup mudah. Tetapi, untuk SIMRS yang diubahsuaikan, pengkodean tambahan harus dilakukan pada fitur-fitur yang terkena pengubahsuaian, diikuti pengetesan yang teliti. Proses ini lebih rumit dan harus dilakukan setiap kali ada versi produk baru, sehingga berpotensi memengaruhi operasional rumah sakit.

T: Apa saja poin penting saat memilih penyedia SIMRS?
J:

  • Pengetesan. Penyedia SIMRS harus melakukan pengetesan yang komprehensif untuk memastikan produk yang ditawarkan telah sesuai persyaratan bisnis, dan tetap menjaga keselamatan pasien. Pengetesan yang ekstensif harus dilakukan sebelum SIMRS diluncurkan dan diimplementasikan di klien (terkait konfigurasi dan data yang digunakan tiap klien)
  • Pembaruan produk. Penyedia SIMRS yang bagus cepat tanggap pada perkembangan teknologi dan kebutuhan pengembangan sistem, sesuai kedokteran yang berbasis bukti, tren di industri rumah sakit, aturan pemerintah dan perubahan persyaratan sertifikasi.
  • Tim yang Kompeten. Penting untuk melibatkan konsultan dengan latar belakang yang sesuai, seperti dokter, apoteker, atau tenaga medis lain untuk memastikan sistem yang dikembangkan sesuai praktik kedokteran terbaik. Selain itu, praktisi kesehatan mengerti kondisi kerja sehari-hari di rumah sakit, sehingga pengembangan SIMRS menjadi lebih intuitif dan efisien untuk lingkungan kerja klinis.
  • Komunikasi. Penyedia SIMRS harus mau menerima saran atau masukan dari pengguna, untuk pengembangan SIMRS di masa depan. Diperlukan komunikasi yang terbuka dan dari dua arah antara penyedia SIMRS dan pihak rumah sakit.
  • Kolaborasi. Koordinasi dan kolaborasi yang erat antara pihak rumah sakit dan penyedia SIMRS diperlukan untuk merencanakan dan melakukan implementasi secara efektif. Inilah pentingnya memilih penyedia SIMRS yang berpengalaman, terpercaya, berdedikasi, dan berkomitmen untuk jangka panjang dengan menyediakan layanan purnajual pada rumah sakit.

Berita Internasional

Pertukaran Informasi Pasien Menghubungkan Rumah Sakit di Charleston, dan Terus Berkembang


Pertukaran data kesehatan yang tidak nampak bagi pasien namun telah berlangsung selama satu dekade, diperbarui pada musim panas ini dan sistem ini mengumpulkan lebih banyak informasi dari sebelumnya.

Sejumlah departemen gawat darurat di area Charleston terhubung melalui sistem yang disebut Carolina eHealth Alliance. Pertukaran informasi ini harus atas izin pasien.

Berbagi informasi dengan cara ini membantu dokter untuk membuat keputusan tepat saat pasien tiba di IGD. Selama bertahun-tahun, pertukaran informasi hanya menghubungkan IGD di Trident Health, Roper St. Francis, Universitas Kedokteran South Carolina dan Pusat Kedokteran East Cooper.

Tetapi awal musim panas tahun ini, Carolina eHealth Alliance menyewa perusahaan lain untuk mengurusi data pasien dan membuka akses bagi staf rumah sakit, tidak hanya untuk staf IGD saja.

Gagasan awalnya adalah menghemat biaya layanan kesehatan dengan cara mengurangi tes berulang dan menghindari rawat inap pasien jika memungkinkan. Idealnya, dokter dimanapun dapat melihat riwayat medis pasien seluruhnya sebelum memerintahkan untuk tes, meresepkan obat-obatan, atau menjadwalkan pasien datang ke rumah sakit.

Tetapi hambatan pada sistem EMR, beserta keengganan untuk berbagi data dengan kompetitor memperlambat kemajuan.

Hal ini tidak menghentikan pasien untuk memeriksakan diri ke IGD, kata Dr. Christine Carr, dokter di MUSC dan direktur medis Carolina eHealth Alliance. “Tetapi akan membuat pemeriksaan di IGD lebih cepat dan lebih murah.”

Pengeluaran pada pemeriksaan medis yang berlebihan per tahunnya mencapai $200 miliar atau lebih, menurut lembaga nonprofit Lown Institut. Pengeluaran tersebut termasuk tes yang tidak diperlukan dan rawat inap yang tidak ditanggung.

Rekam Medis

Pemerintah memerintahkan industri kesehatan untuk beralih ke rekam medis elektronik sekitar satu dekade yang lalu. Perintah ini termasuk sanksi finansial jika rumah sakit tertinggal dan penghargaan untuk rumah sakit yang mengadopsi rekam medis digital.

Rekam medis kertas tidak efisien dan pemerintah berharap pertukaran data elektronik akan meningkatkan kualitas pemeriksaan pasien. Tetapi dokter kebanyakan merasa kewalahan dengan banyaknya waktu yang dibutuhkan untuk mengurusi dokumen digital.

Dokter cenderung berpikir RME membuat mereka tidak lagi bekerja secara efektif, demikian menurut hasil survei yang dilakukan Stanford Medicine tahun lalu. Kebanyakan dokter berkata bahwa mengurusi rekam medis mengakibatkan kelelahan pada profesi mereka.

Salah satu permasalahan yang mereka hadapi adalah sulitnya untuk berbagi informasi. Rumah sakit sering kali menggunakan beberapa software berbeda sekaligus, dan penyedia software tersebut jarang yang bersedia untuk membagi data.

Setelah bekerja berjam-jam di IGD, staf masih harus mengirimkan melalui faksimili formulir persetujuan yang telah ditandatangani kepada rumah sakit dimana mereka membutuhkan informasi, kata Joy Huntington, direktur layanan gawat darurat du Roper St. Francis. Jika ada staf jaga di departemen rekam medis pada rumah sakit yang dituju, mereka dapat langsung mengirimkan rekam medis yang diperlukan.

Pada saat rekam medis diterima, dokter telah memutuskan untuk mengulangi tes yang sama, atau meminta pasien untuk dirawat inap, kata Huntington.

Jika tidak ada staf rumah sakit yang dapat mengirimkan rekam medis, bukan tidak mungkin jika rekam medis baru akan diterima keesokan harinya.

Riwayat Pertukaran Informasi

Pertukaran informasi ditemukan sekitar 10 tahun yang lalu sebagai cara departemen IGD untuk membagi informasi. Sistem ini dibuat khusus, kata Dr. Leslie Lenert, pimpinan teknis di Carolina eHealth Alliance.

Pada tahun pertamanya, eHealth Alliance menghemat lebih dari $1 juta.

Tetapi software ini dibuat pada komputer yang sudah tidak digunakan lagi, kata Lenert. Tim mencoba mencari suku cadang pengganti di eBay, katanya, karena model tersebut sudah tidak diproduksi.

Pemeliharaan menjadi beban, kata Carr, direktur medis Alliance. Komputer yang digunakan sudah terlalu ketinggalan jaman hingga jika sistem pertukaran data bermasalah, sulit untuk diperbaiki, katanya.

Beralih ke pilihan berbasis cloud, dimana informasi disimpan di pusat data, menempatkan tugas pengoperasian pertukaran data pada pihak swasta. Pusat data juga meningkatkan seberapa besar data pasien yang dapat disimpan dan dibagikan.

Kita harus menemukan cara untuk memecahkan hambatan informasi ini dan memungkinkan rekam media untuk terus mencatat data pasien, kata Lenert.

Ken Deans, CEO Health Sciences South Carolina, mengatakan bahwa beralih ke penyedia software baru, yaitu Health Catalyst, diharapkan dapat membuat data pasien lebih aman. Perusahaan ini dapat melindungi informasi dengan lebih baik karena lebih besar, dibandingkan perusahaan nonprofit yang mencoba mengurusi informasi tersebut sendiri.

Mereka memiliki komitmen kuat untuk menjaga privasi dan keamanan yang ada dalam batas standar nasional, kata Deans.

Carolina eHealth Alliance bukanlah satu-satunya penyedia software pertukaran data sejenis di Palmetto State. Tiap sistem menghubungkan jaringan rumah sakit yang berbeda. Carr mengatakan, idealnya, semua jaringan tersebut berada dalam satu sistem.

Atau lebih baik lagi, kata Lenert, pasien akan dapat mengakses dan membaca rekam medis mereka sendiri.


Sumber : https://www.postandcourier.com/business/an-exchange-of-patient-information-connects-charleston-hospitals-and-it/article_11c34aa0-a721-11e9-acd4-471d4eae4944.html

Berita Internasional

Solusi Layanan Kesehatan Bisa Jadi Tersedia di Cloud


Mayo Berkolaborasi dengan Google untuk Menganalisa Rekam Medis Pasien

Raksasa teknologi, Google, berencana membuka kantor di Rochester sebagai bagian dari “kemitraan strategis” 10 tahun terbaru dengan Mayo Clinic untuk menyimpan dan menganalisa data pasien melalui layanan cloudnya.

Proyek kerjasama ini, diumumkan Selasa, 10 September, akan melibatkan salinan rekam medis pasien Mayo Clinic dan data lain yang diunggah ke Google Cloud. Proses ini diperkirakan memakan waktu antara 12 hingga 36 bulan, kata Eric Harnisch, direktur senior Pengembangan Bisnis Mayo Clinic.

Epic Systems, yang mengambil alih RME Mayo Clinic pada tahun 2018, masih akan menyimpan rekaman utama di pusat datanya di Verona, Wis., dan akan menyimpan data cadangan di pusat data Rochester di West Circle Drive Northwest.

Kemitraan ini melengkapi Epic, kata Harnisch.

Kemitraan Google yang baru ini akan melibatkan rekam medis, diantaranya scan, video dan beberapa laporan, yang disimpan terpisah dari data milik Epic. Hal ini berarti proyek Google akan memindahkan salinan semua data medis ke dalam satu cloud untuk dianalisa.

Begitu rekam medis, scan medis dan informasi lainnya berada di cloud, Mayo Clinic dan Google akan menggunakan kecerdasan buatan dan analisa terbaru untuk menerjemahkannya agar dapat digunakan dokter dan peneliti.

Proses ini akan diawasi langsung melalui proses pengelolaan yang terstruktur. Setiap proyek akan dinilai oleh komite gabungan. Kami akan memantau ratusan gagasan. kata Harnisch.

Google dan Mayo Clinic mengatakan bahwa mengunggah data pasien ke cloud tidak membahayakan privasi pasien dan pada akhirnya akan meningkatkan layanan pasien.

Aashima Gupta, yang memimpin solusi layanan kesehatan untuk Google Cloud, mengatakan Mayo Clinic akan mengontrol semua data.

Mayo Clinic memegang kunci ke semua data. Mereka memilih data apa saja yang diunggah ke cloud dan hanya mereka saja yang dapat mengaksesnya. Mereka memegang kunci ke tempat penyimpanan data, katanya.

Gupta mengatakan dia tidak dapat memberikan perkiraan jumlah karyawan Google yang dipindahkan ke Rochester atau kapan kantor tersebut akan dibuka.

Saya dapat memberitahukan jika ini akan menjadi kerja gabungan antara analis data, peneliti data, ahli kecerdasan buatan dan data untuk membentuk kerja sama yang bagus, katanya.

Sementara Google bekerja dengan berbagai rumah sakit akademis, yang adalah kompetitor Mayo Clinic, Gupta mengatakan bahwa proyek Rochester ini unik.

Proyek ini adalah kemitraan jangka panjang bagi kami. Perkembangan kemitraan ini….seberapa besar kami berinvestasi….membuka kantor….kami tidak melakukan hal tersebut dengan mitra lain, katanya.

Kemitraan ini akan menempatkan Mayo Clinic di tengah pasar cloud computing untuk layanan kesehatan global yang tengah berkembang pesat. Diperkirakan akan mencapai $27.8 juta pada tahun 2026.

Kerja sama ini adalah arah yang ingin dicapai CEO Mayo Gianrico Farrugia yang disebut sebagai salah satu prioritasnya karena layanan kesehatan yang selama ini dikenal karena sentuhan manusianya telah berubah bentuk dan memasuki pasar layanan kesehatan global yang didorong oleh data.

Inovasi medis yang didorong data berkembang pesat, dan kemitraan kami dengan Google akan membantu kami memimpin transformasi digital dalam layanan kesehatan,” demikian pernyataan Farrugia dalam pengumuman kemitraan baru ini. “Kemitraan ini akan memperkuat kami untuk menyelesaikan beberapa masalah medis yang paling kompleks; mengantisipasi kebutuhan pasien dengan lebih baik; dan bertemu pasien kapan, dimana, bagaimana pun mereka membutuhkan.

Peningkatan yang cukup besar tahun lalu bagi Mayo dengan mengadopsi sistem dari Epic – menghubungkan keseluruhan rekam medis, catatan klinis dan pemeriksaan pasien melalui software pemusatan pengambil keputusan dan optimasi tagihan – sekarang membuka jalan untuk kemajuan yang lebih besar: penggunaan data anonim oleh Google, mesin penyingkat data terbesar yang pernah ada.

Itu adalah harapan dari masa depan kedokteran dengan kecerdasan buatan. Ini merujuk pada penggunaan algoritma untuk menemukan pola pada rangkaian data yang sangat besar, berpotensi dapat mengidentifikasi target baru untuk pengobatan penyakit. Penggunaan awal dari kecerdasan buatan telah terpusat pada pencitraan dan patologi. Kelompok optimis bahkan memegang harapan bahwa dengan melakukan outsource untuk langkah diagnosis umum kepada mesin pembelajaran, kecerdasan buatan dapat mengembalikan waktu dokter yang berharga yang selama ini teralihkan dari kunjungan pasien akibat tuntutan untuk menjaga rekam medis dan produktivitas.

Proyek ini serupa dengan kerjasama Mayo Clinic dengan Watson Health milik IBM mengenai kecerdasan buatan dan supercomputing.

Kerjasama ini adalah upaya paralel menuju proyek IBM Watson yang tengah berjalan, kata Chief Medical Information Officer Mayo Clinic, Dr. Steve Peters. “Proyek Google dan IBM bukanlah untuk mengganti dokter. Ini lebih tentang meningkatkan kecerdasan manusia … dengan cara yang lebih efisien dan efektif.”


Sumber : https://www.thedickinsonpress.com/4653749-Health-care-solutions-could-be-in-the-cloud

Berita Internasional

Departemen Veteran Meluncurkan Program Pelatihan untuk Meningkatkan Sistem Rekam Medis Elektronik Sepenuhnya


Departemen Veteran Amerika Serikat yang baru-baru ini meluncurkan program pelatihan inovatif untuk mendukung modernisasi sistem RMEnya, sejak 12 September telah memilih 76 peserta pelatihan yang telah memulai proyek ini untuk mengatasi tantangan nyata layanan kesehatan veteran.

Meningkatkan pengalaman Departemen Pertahanan (DOD) terhadap RME yang saat ini diluncurkan, Departemen Veteran mengembangkan program pelatihan Laboratorium Peningkatan Teknologi Inovatif (VITAL), menyadari pentingnya menyediakan pelatihan lanjutan untuk pengguna tertentu yang akan mendukung peningkatan kinerja berkelanjutan.

Departemen Veteran meluncurkan VITAL untuk secara khusus melatih staf yang dapat mengidentifikasi hambatan yang akan muncul dan bekerja di berbagai organisasi Departemen Veteran demi kemajuan,” kata Sekretaris Departemen Veteran Robert Wilkie. “VITAL adalah komponen penting dalam strategi pelatihan kami yang lebih besar, yang akan membantu memastikan penggunaan sistem RME yang telah dimodernisasi oleh pengguna secara efisien dan tepat waktu.”

Sistem RME yang baru akan menjadi sumber tunggal dari semua informasi kesehatan para veteran. Peningkatan pada sistem ini memungkinkan pengguna yang telah menemukan solusi untuk satu masalah di satu rumah sakit untuk berbagi solusi dengan rumah sakit lain hampir dalam waktu nyata. Program VITAL, rangkaian pelatihan selama 12-18 bulan, mengembangkan baik kemampuan teknis maupun dukungan mengubah kemampuan manajerial yang diperlukan untuk mendorong efisiensi dan efektivitas di seluruh aspek layanan kesehatan veteran.

Departemen Veteran mengidentifikasi staf utama untuk layanan klinis dan garis depan yang membutuhkan pelatihan lanjutan untuk memastikan kelancaran implementasi modernisasi sistem RME, meningkatkan fungsionalitas dan mendukung peningkatan kinerja berkelanjutan.

Bulan Mei 2018, Departemen Veteran menyetujui kontrak dengan Cerner Corp. untuk menggantikan sistem rekam medis pasien yang lama dengan sistem khusus yang saat ini diluncurkan oleh DOD. Sistem interoperabilitas tunggal di seluruh Departemen Veteran dan DOD akan memfasilitasi keamanan pertukaran data kesehatan tentara aktif saat mereka beralih status menjadi veteran. Modernisasi ini akan menciptakan layanan kesehatan yang tanpa hambatan untuk tentara aktif dan veteran.


Sumber : https://www.va.gov/opa/pressrel/pressrelease.cfm?id=5314

Berita Internasional

Pencocokan Pasien-Bagian yang Hilang pada Perawatan Berbasis Nilai?


Penghematan biaya, perawatan preventif dan keterlibatan pasien adalah masalah utama jika membahas tentang perawatan berbasis nilai. Hal ini mengenai membantu pasien hidup sehat dan juga mengurangi biaya dan memahami efisiensi administratif dan klinis. Hal-hal tersebut penting, namun juga tak mungkin untuk memberikan perawatan berbasis nilai secara efektif tanpa dapat menghubungkan identitas pasien di seluruh fasilitas rumah sakit. Kenapa demikian? Karena pencocokan pasien memungkinkan rumah sakit untuk:

  • Meningkatkan keselamatan pasien
  • Mengurangi tes dan layanan yang berulang
  • Mencegah rawat inap yang tidak diperlukan
  • Meningkatkan produktivitas dokter dan staf

Baru-baru ini, Kongres telah memvalidasi pentingnya pencocokan pasien. Dewan Perwakilan Amerika Serikat baru saja mencabut larangan penggunaan dana federal untuk mengadopsi penanda unik pasien. Pencabutan larangan akan membuka kemungkinan bagi Departemen Layanan Kesehatan dan Kemanusiaan Amerika Serikat untuk berkolaborasi dengan pihak swasta untuk menemukan solusi menekan kesalahan medis dan juga melindungi privasi pasien. Sementara itu pihak Senat belum melakukan voting untuk meloloskan aturan.

Pencocokan pasien sangatlah penting untuk semua rumah sakit dan terutama rumah sakit yang terlibat dalam merger dan akuisisi. Sistem ini penting juga karena rumah sakit dan sistem kesehatan bergabung dengan Accountable Care Organizations tang bergantung pasa koordinasi perawatan dan pencocokan pasien yang akurat. Tanpa strategi pencocokan pasien, RME yang berbeda membuat rumah sakit rentan melakukan kesalahan dan pembiayaan yang tidak perlu.

Pertimbangkan kemungkinan penghematan biaya dari pasien menjalani dua kali MRI karena kesalahan ejaan, mengakibatkan staf tidak dapat menemukan rekam medisnya yang memuat hasil dari tes pertama. Atau pasien yang menjalani tes tambahan yang tidak diperlukan setelah hasil biopsi payudaranya tertukar dengan pasien lain dengan nama yang sama. Atau pasien yang menderita komplikasi hingga harus dirawat inap karena salah resep akibat informasi alerginya sebagian tersebar di beberapa rekam medis yang terduplikasi. Kesalahan semacam itu muncul setiap hari dan di setiap bagian rumah sakit. Setiap skan, tes laboratorium, janji periksa dengan dokter dan rawat inap menjadi titik tambahan dimana kesalahan dapat ditambahkan pada RME.

Bahkan rumah sakit yang berpartisipasi dalam pertukaran informasi kesehatan (HIE) terus berusaha memecahkan tantangan manajemen identitas. Meskipun beberapa HIE membantu organisasi membersihkan datanya, tantangan terkait dengan kualitas data dan kelengkapan sebagaimana juga kurangnya standardisasi data membuat pencocokan pasien dalam HIE sangat sulit dilakukan. Tanggung jawab akhirnya berada pada rumah sakit atau sistem kesehatan untuk mengembangkan strategi pencocokan pasien yang memungkinkan perawatan berbasis nilai dan yang pada akhirnya meningkatkan keselamatan pasien.

Pertimbangkan tiga tips berikut untuk menciptakan strategi pencocokan pasien yang menjadi dasar perawatan berbasis nilai:

  1. Standarisasi pengumpulan data sesuai sistem. Contohnya, apakah rumah sakit menggunakan ‘Jalan’ atau ‘Jl’ pada kolom alamat? Penelitian baru-baru ini menemukan bahwa standardisasi alamat sesuai standar Layanan Pos Amerika Serikat dapat meningkatkan angka kecocokan sebanyak tiga persen. Tampaknya memang tidak banyak, tapi pada cakupan negara, angka tersebut mencapai puluhan ribu rekam medis di tiap harinya. Sedangkan standarisasi alamat dan nama belakang, angka kecocokan naik sebanyak delapan persen. Pertanyaan lain untuk dipertimbangkan: Apakah rumah sakit akan menggunakan tanda hubung untuk nama belakang yang terdiri dari dua kata? Apakah nama tengah akan disingkat dengan inisial atau ditulis lengkap? Apakah akan menggunakan ‘Jr.’ atau ‘II’? Format standar sama pentingnya dengan informasi yang dikumpulkan rumah sakit. Contohnya, apakah rumah sakit memerlukan informasi tentang urutan kelahiran (untuk kelahiran anak kedua dan seterusnya)? Alamat email? Informasi biometrik? Nama gadis? Alamat terdahulu?
  2. Sediakan pelatihan berkelanjutan untuk staf di bagian pendaftaran. Standardisasi data dimulai dari staf yang benar-benar terlatih. Banyak rumah sakit sukses dengan model pendaftaran terpusat; tetapi, yang terpenting adalah staf memahami pentingnya informasi yang mereka kumpulkan. Pelatihan harus memuat topik-topik berikut: Kriteria yang digunakan saat mencari pasien, metode yang layak untuk memverifikasi identitas pasien, pertanyaan spesifik yang telah disiapkan (dan distandardisasi) untuk ditanyakan selama proses registrasi, bagaimana menangani skenario gawat darurat dan lain-lain.
  3. Fokus pada pembersihan data, menghubungkan. Karena kesalahan akibat faktor manusia tidak dapat sepenuhnya dihindari, rumah sakit juga harus menggunakan layanan manajemen data. Menggunakan teknologi penghubung berbasis statistik yang dinamis dan database referensi yang besar, mitra data eksternal dapat memvalidasi informasi kontak pasien, meningkatkan rekam medis menggunakan informasi publik dan milik pribadi dan menciptakan penanda bergantung pada non-SSN yang bertindak sebagai penghubung semua titik data yang berkaitan dengan individu tertentu. Mitra data juga dapat memeriksa database pasien yang besar untuk mengidentifikasi duplikasi rekam medis sehingga dapat dihapus atau digabung, membantu mengurangi biaya penyimpanan digital dan menyingkat efisiensi operasional.

Pencocokan pasien haruslah menjadi bagian penting dari perawatan berbasis nilai. Upaya rumah sakit untuk meningkatkan pendapatam dan mengurangi pengeluaran dapat dengan cepat terhambat oleh ketidakmampuan untuk mencocokkan pasien yang didata dengan tepat.


Sumber : https://www.healthcaredive.com/spons/patient-matchingthe-missing-puzzle-piece-to-value-based-care/562721/

Berita Seputar Kesehatan

”Stunting” Masih Mendera Kabupaten Sumba Barat Daya dan Ende


Dua bupati yang baru dilantik, yakni Sumba Barat Daya dan Ende, untuk masa bakti 2019-2024, didesak segera menyelesaikan masalah stunting di daerah masing-masing. Stunting yang terjadi karena kemiskinan masih mendera dua kabupaten itu.

Untuk itu, bupati dan semua pihak terkait harus bekerja serius mengatasi masalah ini. Pemkab SBD memiliki tujuh program emas membangun SBD lima tahun ke depan.

Gubernur Nusa Tenggara Timur Viktor Laiskodat, seusai melantik Bupati Sumba Barat Daya (SBD) Kornelis Kodi Mete-Kristian Taka, dan Bupati Ende Ahmat Djafar di Kupang, Minggu (8/9/2019), mengatakan, SBD salah satu kabupaten dengan kasus kemanusiaan tertinggi selain Timor Tengah Selatan.

”Saya sudah pesan secara pribadi kepada bupati SBD, juga Bupati Ende yang dilantik. Saya mendesak agar kasus stunting di dua kabupaten ini segera ditangani. Sumba Barat Daya, khususnya Kecamatan Kodi, hampir 70 persen dari 60.000 jumlah penduduk di kecamatan itu mengalami stunting, ini masalah besar bagi tumbuh kembang anak,” kata Laiskodat.

Stunting atau pertumbuhan seseorang tidak normal atau jauh lebih pendek dibandingkan dengan usia yang ada. Selain stunting, gizi buruk dan rawan pangan pun terjadi di daerah itu. Kasus-kasus ini juga terdapat di Kabupaten Ende dan 19 kabupaten/kota lain di NTT.

Kabupaten SBD memiliki sumber daya alam yang cukup banyak, antara lain kopi, jambu mete, kelapa, pisang, dan jagung. Selain itu, SBD memiliki aneka budaya yang memikat dan menarik wisatawan, terutama pantai yang indah, kampong adat, perang adat pasola, dan rumah budaya. Budaya-budaya dan keindahan alam ini harus ditata dan dikelola dengan baik agar bermanfaat bagi masyarakat setempat.

Bupati-Wakil Bupati SBD dan Bupati Ende serta para pembantu dan PNS setempat harus bekerja keras. Berani menelurkan program-program pro-rakyat, praktis, dan mudah dikerjakan masyarakat tanpa harus mengeluarkan biaya tinggi.

Kedua bupati tersebut didorong segera melakukan konsolidasi birokrasi, partai politik, unsur masyarakat, para tokoh agama, tokoh pemuda, dan tokoh adat. Kemajuan SBD lima tahun ke depan tidak hanya dibangun oleh pemda, tetapi semua kelompok masyarakat di daerah itu.

Tujuh Program

Sementara itu, Bupati SBD Kornelis Kodi Mete telah mempersiapkan tujuh program yang disebut jembatan emas SBD. Program itu, yakni pengembangan pariwisata, peternakan, pendidikan, kesehatan, pertanian dan perkebunan, infrastuktur jalan, dan air bersih.

Tujuh program ini sudah dijalankan selama lima tahun sebelumnya, yakni 2009-2014. Saat itu Kodi Mete menjabat sebagai Bupati SBD, tetapi kemudian gagal pada periode 2014-2019 karena dikalahkan pasangan Markus Dairo Talu-Ndara Tangguh Kaha.

Di tengah pelantikan itu, rohaniwan Katolik, Uskup Sumba Mgr Edmond Woga CSsR; Ketua Sinode Gereja Kristen Sumba Pdt Alfred Samani; dan rohaniwan Muslim, H Idris Muda mengukuhkan janji ketiga pejabat, dengan kitab suci masing-masing dan mendoakan mereka.

Uskup Edmond Woga CSsR, misalnya, mendoakan agar Kodi Mete selalu memimpin dengan kebenaran, keadilan, dan pengorbanan. Kebenaran dan keadilan selalu berpihak pada kaum miskin dan lemah. Mereka yang tak berdaya menunggu uluran tangan dan pengasihan dari pemimpin yang telah mereka pilih.

Sementara Bupati Achmat Djafar mengatakan, akan melanjutkan program-program kerja yang sudah dicanangkan bersama almarhum (bupati) Marsel Petu. Marsel Petu meninggal pada 26 Mei 2019 di RS Siloam, Kupang, akibat serangan jantung.

Kabupaten Ende pun memiliki potensi unggulan, seperti pariwisata dan hasil-hasil perkebunan serta pertanian. Tanaman bumbu dapur di Ende selama ini menyuplai sejumlah kebutuhan di Kota Kupang, seperti jahe, bawang merah, kentang, kunyit, kunir putih, dan daun salam.


Sumber : https://kompas.id/baca/nusantara/2019/09/09/bupati-sumba-barat-daya-didesak-selesaikan-kasus-stunting/

Berita Seputar Kesehatan

Penggunaan Teknologi Mudahkan Sistem Pencatatan Kesehatan


Berbagai kemudahan pelayanan kesehatan dan keperawatan bisa didapatkan dengan memanfaatkan perkembangan teknologi informasi dan komunikasi. Salah satunya dengan memanfaatkan sistem pencatatan kesehatan atau catatan medis secara elektronik.

Profesor kehormatan Departemen Penelitian dan Kebijakan Pelayanan Kesehatan, London School Of Hygiene and Tropical Medicine, Inggris, Eduard Jan Beck, menyampaikan, perkembangan teknologi memungkinkan peningkatan pengumpulan informasi kesehatan seseorang. Jika catatan medis bisa dikemas dalam bentuk elektronik, informasi bisa lebih mudah dievaluasi dan dikontrol oleh tenaga kesehatan yang menangani.

”Penggunaan catatan medis elektronik bisa dioptimalkan untuk memantau dan mengevaluasi penggunaan fasilitas kesehatan, biaya yang dikeluarkan, serta hasil dan dampak layanan kesehatan yang diberikan, baik di tingkat lokal, nasional, regional, dan global. Dengan begitu, kontrol pada layanan kesehatan bisa lebih baik dan terukur,” ujarnya di sela-sela acara The 3rd Science Festival yang diselenggarakan oleh Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia di Depok, Jawa Barat, Senin (9/9/2019).

Kegiatan ini merupakan ajang pertemuan antara mahasiswa, praktisi dan profesional, serta para ahli dari dalam dan luar negeri untuk membahas program-program serta layanan inovatif di bidang kesehatan masyarakat. Dalam acara ini juga diselenggarakan simposium bagi sarjana muda bidang kesehatan masyarakat dengan mengangkat beberapa topik, antara lain, kesehatan lingkungan dan industrial, manajemen kebencanaan kesehatan masyarakat, serta keamanan pangan dan nutrisi.

Eduard menambahkan, catatan kesehatan individu yang telah terintegrasi dan terhubung dengan rekam medis elektronik memungkinkan pasien untuk melihat catatan medis secara lengkap. Informasi kesehatan bisa dilihat secara komprehensif, mulai dari catatan imunisasi hingga hasil kunjungan pemeriksaan ke dokter. Selain itu, sistem pencatatan elektronik bisa juga untuk mengatur jadwal kunjungan pemeriksaan ataupun pemberian terapi selanjutnya.

”Meski manfaatnya banyak, catatan kesehatan elektronik harus dipersiapkan secara matang, terutama terkait keamanan data pribadi yang dimiliki pasien. Untuk itu, regulasi dari pemerintah harus dipersiapkan terlebih dahulu agar pasien terlindungi dari potensi buruk dari keterbukaan informasi tersebut,” ucapnya.

Di lain sisi, perkembangan teknologi informasi yang cepat juga menimbulkan dampak negatif di bidang kesehatan. Berita bohong atau hoaks terkait kesehatan cukup tinggi ditemukan di masyarakat dan tidak sedikit masyarakat yang percaya pada berita bohong tersebut.

 

Lebih Kritis

Menteri Kesehatan Nila Farid Moeloek berpendapat, masyarakat harus lebih kritis pada informasi yang didapatkan melalui media sosial. Saat ini Kementerian Kesehatan bersama Kementerian Komunikasi dan Informatika serta Komisi Penyiaran Indonesia bekerja sama mengatasi masalah ini.

”Hoaks bidang kesehatan banyak sekali, dari pegobatan mata sampai kanker ada. Jika menerima informasi, masyarakat jangan mudah percaya. Pastikan dulu apakah informasi yang diterima sudah berbasis penelitian atau belum. Jangan mau dibodohi,” tutur Menkes.


Sumber : https://kompas.id/baca/utama/2019/09/09/penggunaan-teknologi-mudahkan-sistem-pencatatan-kesehatan/

Berita Seputar Kesehatan

Bukan Kusta yang Berbahaya, tetapi Ketidaktahuan


Awalnya, warga di Kampung Somnak dan Daikot, Distrik Joutu, di pedalaman Kabupaten Asmat, Papua, menganggap fenomena kulit mereka yang kebas, melepuh, nyeri persendian, hingga jemari tangan yang kaku, bahkan kelumpuhan, itu sebagai hal biasa. Apalagi, gejala ini dialami oleh banyak warga, termasuk anak-anak.

”Itu dulu kami kira penyakit kulit biasa saja. Tidak tahu sejak kapan, tetapi sudah lama orang-orang di kampung kami kena penyakit ini,” kata Kepala Kampung Somnak, Tadius Joutu (60).

Hingga pada April 2019, para petugas dari Litbang Kesehatan Papua yang dipimpin peneliti kusta, Hana Krisnawati, dan tim dari Dinas Kesehatan Kabupaten Asmat datang ke dua kampung yang berjarak sekitar enam dan tujuh jam dengan perahu cepat dari kota Agats, ibu kota Asmat itu. Pemeriksaan awal menemukan sekitar 30 persen penduduk di dua kampung, yang masing-masing dihuni sekitar 200 dan 300 warga ini, menderita kusta.

”Awalnya kami mendapatkan informasi dari para perawat yang bertugas di kampung tentang dugaan banyak warga terkena kusta pada Februari 2019. Hanya saja, untuk mencapai ke sana memang sulit dan mahal sehingga baru bisa survei dua bulan kemudian,” kata Hana yang pada pertengahan Agustus 2019 kembali mengunjungi kampung ini. Kunjungan kali ini berbarengan dengan pemeriksaan genetika oleh para peneliti Lembaga Biologi Molekuler Eijkman.

Dalam kunjungan kedua ini, jumlah penderita kusta yang ditemukan kembali bertambah. Seperti kampung-kampung lain di pedalaman Asmat, masyarakat di Somnak dan Daikot sehari-hari kebanyakan tinggal di bivak di dalam hutan dan hanya pada hari-hari tertentu ke kampung sehingga tidak sempat diperiksa pada April lalu.

”Gejalanya jelas kusta. Kulitnya mulai kebas, tidak lagi merasakan saat diraba,” ujar Elihud Robaha dari Dinas Kesehatan Papua, kepada seorang ibu yang tengah memeriksakan anaknya yang masih berusia sekitar sembilan tahun.

Bocah lelaki itu terlihat kurus dengan kulit punggung dipenuhi bercak putih melebar. Sebelah kakinya juga mulai mengecil, yang menandakan kuman Mycobacterium lepra mulai menyerang tulang. Elihud kemudian mengambil sel jaringan kulit di belakang telinga bocah untuk diperiksa lebih lanjut, selain juga sampel darahnya.

Kebanyakan yang diperiksa hari itu adalah anak-anak dan sebagian besar di antaranya didiagnosis telah terjangkit kusta. ”Kalau anak-anaknya kena, kemungkinan besar tertular dari orangtuanya. Penyakit ini tidak mudah ditularkan, butuh interaksi intensif dengan penderita baru bisa tertular, selain memang ada populasi tertentu yang secara genetik rentan dan dugaan saya Papua termasuk yang rentan,” kata Hana.

Selain faktor genetik, kerentanan di Papua juga dipicu oleh perilaku dan lingkungan. Menurut Tadius, warga kampungnya sangat jarang mandi. Jika pun mandi di sungai atau rawa-rawa, biasanya tetap dengan pakaian yang kemudian dibiarkan kering di badan.

”Kusta sangat dipengaruhi oleh kondisi tubuh kita. Jika kebersihan tubuh tidak baik, saat kuman kusta menyerang, imunnya sudah habis untuk melawan banyak bakteri lain. Apalagi, di Papua juga ada persoalan kekurangan nutrisi sehingga daya tahan tubuh juga lemah,” kata Hana.

Selain berbagai faktor itu, meluasnya penyebaran kusta di dua kampung di pedalaman Asmat ini juga terjadi karena terlambatnya identifikasi dan pengobatan. Jika diobati sejak dini, kemungkinan penderita untuk menularkan kuman kusta sangat kecil.

Puncak Gunung Es

Dengan banyaknya daerah terisolasi, fenomena kusta di Papua sebenarnya ibarat puncak gunung es. Sejumlah perkampungan yang terisolasi di pedalaman Papua sangat mungkin menjadi kantong kusta.

Tingginya kerentanan kusta di Papua mulai terdeteksi pada 2009 saat ditemukan kasus kusta pertama di Kampung Mumugu, Distrik Sawaerma, Asmat. Kampung tersebut berbatasan dengan wilayah Nduga di Pegunungan Tengah. Jumlah penduduk yang menderita kusta di kampung ini hingga di atas 70 persen.

Sejak itu, pemerintah telah intensif melakukan pengobatan di Kampung Mumugu, di antaranya dengan menggandeng Keuskupan Agats. ”Pada Januari 2015, pemerintah memberikan pelayanan intensif setelah Menteri Kesehatan Nafsiah Mboi dua kali meninjau,” kata Ketua Yayasan Alfons Suwada Asmat (YASA) Keuskupan Agats, Pastor P Hendrikus Haga Pr.

Kini, kusta di Mumugu mulai teratasi. Namun, kantong-kantong baru kusta ternyata masih ditemukan. Selain kendala aksesibilitas ke daerah pedalaman, faktor sosial juga menjadi tantangan berat.

Perspektif sakit dari masyarakat di Papua juga cenderung berbeda. Menurut Hana, bagi masyarakat Papua umumnya merasa sakit jika sudah tidak bisa bergerak lagi. ”Kalau masih bisa melakukan sesuatu, bahkan malaria plus tiga, mereka masih merasa sehat. Apalagi kusta, yang gejalanya perlahan,” ujarnya.

Tantangan lainnya, menurut kajian Hana, sebagian penderita kusta di Papua ternyata memiliki alergi terhadap obat kusta ”dapson”. Padahal, dapson merupakan salah satu dari paket obat yang direkomendasikan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) yang harus diminum setiap hari selama setahun. Orang yang alergi dapson ini biasanya matanya kuning, kulit bersisik, sesak napas, hingga meninggal.

”Beberapa waktu lalu, saya menemukan dua kasus anak penderita kusta yang meninggal karena alergi dapson. Karena hal ini belum diketahui luas, banyak rumah sakit yang belum tahu sehingga terlambat penanganannya,” kata Hana.

Menurut Hana, setiap penderita bisa memiliki respons alergi yang berbeda terhadap obat ini. Rata-rata gejala awal alergi mulai terdeteksi setelah dua hingga tiga minggu pengobatan. Namun, pernah ada kasus, pasien sudah hampir selesai berobat, tetapi kemudian jatuh sakit.

Hana menduga, masyarakat Papua memiliki faktor genetik yang membuat mereka hipersensitif dengan obat-obatan kusta ini. Maka, selain melakukan pemeriksaan penderita kusta, tugas para petugas medis ini juga untuk meneliti resistensi obat dan potensi alergi.

Dengan kompleksitas persoalan ini, upaya mengeliminasi kusta di Papua butuh perlakuan khusus. Namun, di antara berbagai persoalan ini, lapis yang paling mengkhawatirkan adalah ketidaktahuan warga dan terbatasnya layanan kesehatan sehingga kusta yang sebenarnya tidak mudah menular menjadi terlambat diatasi.


Sumber : https://kompas.id/baca/utama/2019/09/11/bukan-kusta-yang-berbahaya-tetapi-ketidaktahuan/

Berita Seputar Kesehatan

Tiap 40 Detik, Satu Orang Bunuh Diri


Setiap 40 detik tercatat ada satu orang bunuh diri. Ironisnya, tingkat bunuh diri tertinggi terjadi di negara-negara berpenghasilan tinggi. Selain itu, bunuh diri juga menjadi penyebab kematian nomor dua di kalangan kaum muda.

”Meskipun ada kemajuan (pencegahan bunuh diri), satu orang yang meninggal setiap 40 detik karena bunuh diri masih sangat tinggi,” kata Direktur Jenderal Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) Tedros Adhanom Ghebreyesus dalam peringatan Hari Pencegahan Bunuh Diri pada 10 September 2019.

”Bunuh diri bisa dicegah. Kami menyerukan semua negara untuk memasukkan strategi pencegahan bunuh diri ke dalam program kesehatan dan pendidikan nasional secara berkelanjutan,” ujar Ghebreyesus.

Jumlah negara yang telah memiliki strategi pencegahan bunuh diri nasional telah meningkat dalam lima tahun terakhir sejak publikasi laporan global pertama tentang bunuh diri. Namun, jumlah total negara dengan strategi pencegahan yang baru 38 dianggap masih terlalu sedikit dan pemerintah perlu berkomitmen untuk membangunnya.

Menurut data WHO, tingkat bunuh diri tertinggi terjadi di negara-negara berpenghasilan tinggi. Angka bunuh diri tertinggi terjadi di Eropa dengan 15,4 kasus per 100.000 kematian. Menurut data ini, kasus bunuh diri di Indonesia tergolong rendah dibandingkan dengan negara lain, yaitu 3,7 kasus per 100.000 kasus kematian. Dengan kondisi ini, Indonesia menempati peringkat ke-159 dari 183 negara yang didata.

Tingkat bunuh diri untuk beragam usia secara global pada 2016 mencapai 10,5 per 100.000 kematian. Tingkat kematian akibat bunuh diri ini berbeda. Ada negara yang memiliki 5 kasus bunuh diri dari 100.000 kematian, tetapi ada yang lebih dari 30 kasus bunuh diri per 100.000 kematian.

Sekalipun 79 persen kasus bunuh diri di dunia terjadi di negara-negara berpenghasilan rendah dan menengah, negara-negara berpenghasilan tinggi memiliki tingkat tertinggi, yaitu 11,5 per 100.000 kematian.

Kajian WHO juga menyebutkan, jumlah laki-laki yang bunuh diri hampir tiga kali lipat dibandingkan dengan di negara-negara berpenghasilan tinggi, berbeda dengan negara-negara berpenghasilan rendah dan negara-negara berpenghasilan menengah, di mana nilainya lebih setara.

Orang Muda

Bunuh diri juga menjadi penyebab utama kematian kedua di antara orang muda dengan usia 15-29 tahun. Sedangkan penyebab utama kematian di kalangan anak muda adalah kecelakaan di jalan.

Di antara remaja berusia 15-19 tahun, bunuh diri menjadi penyebab kematian paling banyak kedua di kalangan anak perempuan dan penyebab kematian ketiga pada anak laki-laki. Metode bunuh diri yang paling umum adalah menggantung, dengan racun pestisida, dan senjata api.

Menurut Ghebreyesus, upaya utama yang telah menunjukkan keberhasilan dalam mengurangi bunuh diri adalah dengan membatasi akses ke sarana, mendidik media tentang pelaporan bunuh diri, serta melaksanakan program-program di antara kaum muda untuk membangun keterampilan hidup sehingga mereka bisa mengatasi tekanan hidup.

Selain itu, regulasi pestisida, sekalipun jarang digunakan, sangat efektif. Seperti yang ditunjukkan dalam publikasi WHO, terdapat banyak bukti internasional yang menunjukkan bahwa peraturan untuk melarang penggunaan pestisida yang sangat berbahaya dapat menurunkan tingkat bunuh diri nasional.

Negara yang sukses menerapkan hal ini adalah Sri Lanka, di mana serangkaian pembatasan pestisida menurunkan 70 persen kasus bunuh diri dan sekitar 93.000 nyawa bisa diselamatkan antara tahun 1995 dan 2015.

Contoh lain adalah Korea, di mana paraquat (sejenis herbisida) bertanggung jawab atas sebagian besar kematian karena bunuh diri pada tahun 2000-an. Larangan paraquat pada tahun 2011-2012 diikuti oleh penurunan separuh kematian akibat bunuh diri antara tahun 2011 dan 2013.


Sumber : https://kompas.id/baca/humaniora/kesehatan/2019/09/13/tiap-40-detik-1-orang-bunuh-diri/

Berita Seputar Kesehatan

Kurangi Defisit BPJS Kesehatan, Fokus Kemenkes Harus Diarahkan ke Pencegahan


Kementerian Kesehatan diminta mengubah orientasi program dari mengobati menjadi mencegah timbulnya penyakit.

Saleh Daulay, Wakil Ketua Komisi IX DPR menuturkan fokus selama ini berupa pengobatan penyakit terbukti telah menyerap anggaran yang sangat besar.

Pola ini bahkan menimbulkan kerawanan karena defisit sistem pembayaran layanan kesehatan melalui Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS) Kesehatan mencapai Rp38 triliun pada tahun ini.

“Kami harapkan fokus [Kementerian Kesehatan] pada program pencegahan penyakit. Karena itu [pencegahan] lebih murah dari pengobatan,” kata Saleh di gedung DPR RI Jakarta, Rabu (20/9/2019).

Menurutnya, program pencegahan ini harus berupa terobosan gaya hidup sehat. Selain itu juga dilaksanakan program lanjutan baik imunisasi hingga pencegahan stunting.

“Yang utama adalah pengelolaan stunting, ini tidak hanya [betfokus di Indonesia] timur namun juga di seluruh Indonesia. Butuh anggaran besar sehingga seluruh wilayah Indonesia dapat disentuh,” katanya.

Dalam konfrensi pers nota keuangan pada Agustus lalu, Menteri Keuangan Sri Mulyani menyebutkan pagu belanja Kementerian Kesehatan sebesar Rp 57,4 triliun.

Jumlah ini sedikit lebih rendah dari pagu 2019 yang mencapai Rp57,8 triliun.

“Namun Kemenkes, meski pagu anggaran lebih rendah nanti [anggaran untuk] BPJS [Kesehatan] cukup besar dan ada kenaikan,” katanya.


Sumber : https://kabar24.bisnis.com/read/20190918/15/1149871/kurangi-defisit-bpjs-kesehatan-fokus-kemenkes-harus-diarahkan-ke-pencegahan

Berita Seputar Kesehatan

Formaksi Perluas Layanan Cashless Pasien CoB BPJS Kesehatan


Forum Asuransi Kesehatan Indonesia (Formaksi) sepakat memperluas layanan cashless bagi pasien Coordinating of Banefit (COB) BPJS Kesehatan. Hal tersebut ditandai dengan penandatanganan kerja sama dengan dua Rumah Sakit Permata Group.

“Ada 11 perusahaan asuransi yang tergabung dalam Formaksi akan memberikan dukungannya sebagai pihak penjamin kedua (asuransi kesehatan tambahan), sementara pihak BPJS Kesehatan sebagai penjamin pertama sesuai aturan Permenkes Nomor 51 Tahun 2018” jelas Ketua Umum Formaksi Christian Wanandi di Jakarta, (17/9).

Dia mengatakan, dua rumah sakit yang dimaksud adalah RS Permata Depok dan RS Permata Bekasi. Penandatanganan adendum kerja sama dengan RS Permata tersebut merupakan kali keliga yang dilakukan untuk hal yang sama.

Sementara itu, pada 27 September 2018 penandatanganan kerja sama layanan cashless untuk pasien COB BPJS Kesehatan juga telah dilakukan dengan 33 rumah sakit milik RS Hermina Group. Sedangkan pada 8 Januari 2019 penandatanganan kerja sama layanan cashless untuk pasien COB BPJS Kesehatan juga telah dilakukan dengan dua rumah sakit Ramsay Sime Darby Health Care Indonesia atau RS Premier Group.

Adapun saat ini terdapat 35 rumah sakit yang sudah menandatangani adendum kerja sama tersebut. “Formaksi dalam waktu dekat ini juga akan menambah kerja sama untuk hal yang sama dengan grup rumah sakit lainnya.” lanjut Christian.

Hal senada disampaikan Direktur Eksekutif Formaksi Dumasi MM Samosir. Dia menjelaskan, kerja sama yang ditandatangani kali ini merupakan adendum dari kerja sama direct billing yang sudah berjalan sebelumnya. Dengan adanya adendum perjanjian kerja sama tersebut, maka kerja sama diperluas untuk pasien COB BPJS Kesehatan.

Adapun kondisi Saat ini bagi pasien BPJS Kesehatan yang memiliki asuransi kesehatan tambahan (AKC) harus membayar terlebih dahulu selisih biaya yang terjadi jika memilih perawatan diatas haknya (naik kelas kamar). Selisih ini dalam istilah asuransi dikenal dengan nama ekses.

Dengan adanya perluasan kerja sama ini, maka pasien BPJS Kesehatan yang juga memiliki AKT mendapat kemudahan karena ekses yang timbul akan langsung ditagih oleh rumah sakit ke perusahaan asuransi. Benefit limit pun akan dihitung sesuai nilai polis yang diterbitkan oleh pasien terkait.

“Kami berharap perluasan kerja sama ini akan memberi kemudahan baki pasien yang memiliki jaminan BPJS Kesehatan dan membeli asuransi kesehatan tambahan. Adendum perjanjian kerja sama ini juga ditujukan untuk memaksimalkan penggunaan asuransi yang dimiliki,” ujar Dumasi.

Christian menambahkan, dengan adanya kerja sama ini, Formaksi dan RS Permata Group memiliki komitmen serta prioritas untuk memberikan kemudahan pelayanan bagi pasien yang memiliki fasilitas asuransi kesehatan tambahan. Hal tersebut selaras dengan upaya memberikan dukungan terhadap peraturan pemerintah untuk mempermudah dan memaksimalkan manfaat dari AKT BPJS Kesehatan.

“Terdapat hampir 3 juta peserta asuransi kesehatan yang saat ini terdaftar di perusahaan yang tergabung dalam Formaksi yang dapat menggunakan layanan ini,” kata Christian.

Formaksi merupakan suatu forum yang mewadahi perusahaan asuransi jiwa dan asuransi umum yang memasarkan produk asuransi kesehatan. Didirikan tahun kini Formaksi beranggotakan 12 perusahaan asuransi yaitu PT Asuransi Allianz Life Indonesia, Asuransi Bina Dana Arta Tbk, PT Asuransi Jiwa Central Asia Raya, Asuransi Jiwa Sinarmas MSIG, PT Asuransi Multi Artha Guna Tbk, PT Asuransi Sinar Mas, PT Astra Aviva Life, Avrist Assurance, PT BNI Life Insurance, PT Equity Life Indonesia, Lippo General Insurance Tbk, dan PT Asuransi Jiwa Tugu Mandiri.

Misi Formaksi di antaranya adalah memberikan perlindungan kepada para tertanggung (peserta asuransi kesehatan) agar mendapatkan perlindungan yang wajar alas hak-haknya sebagai peserta asuransi kesehatan. Selain itu, forum tersebut bermaksud menumbuhkan hubungan timbal balik yang sehat antara asuransi dan memberi pelayanan kesehatan.

Beberapa program kerja yang telah dijalankan oleh Formaksi meliputi seminar untuk 136 rumah sakit di Jabodetabek dan Bandung Inn buatan standardisasi formulir klaim rawat inap dan rawat jalan formaksi, dan menjadi narasumber atau pembicara dalam diskusi panel mengenai SJSN.


Sumber : https://subscribe.investor.id/epaper/?publisher=ID&editiondate=2019/09/18

Berita Seputar Rumah Sakit

Hermina akan Membuka Tiga Rumah Sakit Baru di Q4 2019


PT Medikaloka Hermina Tbk (HEAL) akan membuka tiga rumah sakit baru pada kuartal keempat (Q4) tahun 2019. Dengan demikian, Hermina Group akan memiliki 40 rumah sakit di Indonesia pada tahun 2020.

Ario Setiawidjaja, Direktur PT Medikaloka Hermina Tbk (HEAL) menyatakan bahwa Hermina Group telah mengakuisisi rumah sakit di daerah Pekalongan, Jawa Tengah. “Hermina saat ini telah mengoperasikan 33 rumah sakit di Indonesia,” katanya di Jakarta.

Pada semester pertama 2019, pendapatan Hermina Group mencapai Rp 1,78 triliun, yaitu 18% lebih tinggi dari periode yang sama tahun lalu sebesar Rp 1,51 triliun.


Sumber : https://www.idnfinancials.com/news/28447/hermina-hospitals-q

Dapatkan Seputar Medis Indonesia dalam inbox Anda


Demo dan Konsultasi Gratis

Memaksimalkan kinerja rumah sakit dengan KMS


Tentang Mitrais

Mitrais adalah perusahaan perangkat lunak kelas dunia dengan kantor di Indonesia, Singapura, dan Vietnam. Pengembangan perangkat lunak dan layanan dukungan adalah keahlian inti kami dengan kantor yang tersebar di Jakarta, Bandung, Yogyakarta, dan Bali. Kami juga menawarkan produk dan dukungan untuk sistem tambang dan rumah sakit. Didirikan sejak tahun 1991, kami telah mengembangkan dan mengimplementasikan perangkat lunak kepada lebih dari 500 klien termasuk beberapa perusahaan terkemuka di Indonesia. Sistem kompetensi yang kami terapkan menjamin kualitas staf kami.

Informasi

Seputar Medis Indonesia menyajikan berita-berita seputar kesehatan dan rumah sakit di Indonesia yang bersumber dari Kompas, The Jakarta Post, Investor Daily, dan Bisnis Indonesia.

Bali (Development Center)

Jl. By Pass Ngurah Rai
gg. Mina Utama No.1
Suwung, Denpasar 80233, Bali, Indonesia

Tel.: +62 361 849 7952

Jakarta

Gedung Wirausaha, 8th Floor
Jl. H.R Rasuna Said Kav. C 5
Jakarta Selatan 12940, Indonesia

Tel.: +62 21 527 7636

Singapore

10 Anson Road
#03-05 International Plaza
Singapore 0799033

Tel.: +65 6407 1331

Other Offices
Hanoi | Bandung | Yogyakarta